Jumat, 01 Januari 2016

Especially For You

       Sesuatu yang kecil bisa menyelinap dan menghancurkannya dari dalam. Dan yang paling aku takut kan adalah, semuanya tejadi tanpa sempat kamu sadari.
Ironis rasanya mengetahui bagaimana seorang manusia biasa dengan percaya diri dan mudahnya melewati sebuah badai yang besar. Namun dalam waktu yang sama mengetahui ada beberapa pasang manusia yang bisa hancur karena kerikil kecil.
Sepasang manusia yang akhirnya rela saling melepaskan genggaman tangan hanya karena ancaman kerikil kecil, padahal sebelumnya pernah melewati puluhan badai yang luar biasa besarnya berdua. Logikanya, sepasang manusia yang berhasil melewati badai berdua atas nama cinta pasti lebih bisa melewati kerikil kecil. Namun sekali lagi, cinta seringkali tak sejalan dengan logika.
Badai yang besar harusmya malu kepada kerikil kecil. Dan sepasang manusi yang kehilangan cinta hanya karena kerikil kecil, akan tertutup mukanya oleh pasir yang terbawa oleh angin badai.
Aku tak ingin malu di depan badai dan kerikil, beserta pasir yang senantiasa menyertai mereka.
Sebuah cinta, semestinya bisa lebih dilawan dari badai dan kerikil yang melanda.
Kepada kamu, genggam tanganku. Kita mulai semuanya dari awal, dan mencapai kebahagian kembali, kita langkahi kerikil kecil yang telah mengganggu kita.
.
.
.
.
       Ia. Lekaki biasa yang mampu menyelinap dan menempati ruang sisi hatiku yang terdalam. Dulu, aku bahagia karna kau yang selalu hadir di hari-hari ku. Tak terhitung berapa lama aku menghabiskan waktu ku dengannya. Yang kutahu, aku sangat bahagia karna kehadiranmu dihidupku. Aku, Nadya Azzahra akhirnya menjadi satu kesatuan yang begitu utuh, bersama lelaki itu, Dinar Alam.
       Kita lahir ditahun yang sama, hanya lingkungan yang menempatkanku diatasnya. Maksudku, aku dan dia berbeda dengan bulan kelahiranku. Aku yang lebih tua, dia yang lebih muda dariku 4 bulan. Tak ada salahnya bukan?
       “KETIKA DIA BERBUAT SALAH, INGATLAH KEBAIKANNYA”
       Terkadang, aku merasa kamu terlalu muda untukku. Memang, umur kita sama. Tetapi lingkungan yang membuat kita berbeda. Aku dengan pikiran dewasaku sedangkan kamu dengan pikiran ke kanak-kanakanmu. Kadang aku merasa letih dengan watakmu yang tak mampu aku ubah. Padahal aku sudah berusaha mengajarkamu, memberitahumu dan mengingatkanmu. Tapi kamu tetap dengan pola pikirmu. Aku hanya bisa memaklumi dan berharap kamu bisa merubah sedikit cara berfikirmu. Tidak harus sepertiku, tapi berubahlah sebagaimana semestinya.
       Kita lalui hari-hari bersama. Tak mampu kujelaskan bagaimana perasaanku. Yang pasti, perasaan ini berbeda dari perasaan- perasaan sebelumnya dan ini adalah hal yang mungkin pertama kali aku rasakan. KAMU, membuat hidupku berbeda dan lebih berwarna. KAMU, merubah hidupku menjadi lebih indah. Bukan, bukan hanya sekedar lebih  indah namun jauh lebih indah tepatnya, Dinar Alam.
       Tapi sejak saat itu, hal indah yang kurasakan perlahan terkikis. Ketika aku mengetahui bahwa kamu belum terlalu nyaman denganku. Kata itu yang membuat otakku berputar lebih cepat dari seperti biasanya, aku memutar otakku agar aku menemukan cara untuk membuatmu nyaman seutuhnya dengan aku. Aku tak ingin mengeluh atas semuanya yang terjadi. Mungkin tuhan punya rencana lain, rencana yang lebih indah dari rencanaku dan ia lebih mengetahuinya segalanya daripada diriku. Maka aku persembahkan segalanya dan aku jalani apa yang harus kujalani. Hingga waktu yang tak dapat ditentukan.
       Aku sangat beruntung mempunyai kekasih yang tak pernah meninggalkanku sepertimu, namun pada akhirnya kau yang pergi begitu saja meninggalkanku, karena kerikil kecil itu yang terus mengganggu pikiranmu selama ini. Namun, aku masih punya sahabat-sahabat yang selalu ada untukku.
       Hari demi hari ku jalani. Kurasakan perbedaan dalam hubungan kita. Pertengkaran kita yang selalu datang, masalah besar apapun kecil, kenyamananmu kepada ku berkurang semakin harinya karna kerikil itu, hingga akhirnya kau merasakan tidak ada nya kecocokan dan kenyamanan untuk kita berdua lagi. Aku sangat memikirnya, rambutku yang mulai rontok, kepalaku yang setiap harinya merasakan sakit, dada ku yang sangat sesak, dan sakit hati yang sangat mendalam yang kurasakan. Tapi aku tak memperdulikan kondisiku, aku malah memikirkanmu yang tampak berbeda, hingga aku memberanikan diri, untuk selalu mengganggu mu lewat komunikasi supaya kau menyadari bahwa aku masih ada disini. Tapi kau malah memarahi ku dan menyuruhku untuk pergi meninggalkanmu sendiri, dengan cara kau meminta untuk beristirahat dalam hubungan kita ini. Ketika ku membaca pesan singkat itu, seketika aku tekatkan dalam diriku untuk selalu tersenyum dan kuat apapun masalah yang kita lewati. Bukan hanya untuk diriku, tapi untuk dirimu yang sudah menjadi bagian dari hidupku.
       Tak terasa, kita telah menjalani semuanya bersama-sama selama 2 Tahun. Kenangan yang tak mampu aku jabarkan dengan kata-kata. Yang ada, hanyalah air mataku yang bergulir mengalir melewati pelipis pipiku ketika aku mengingatnya. Hei, Dinar Alam. Entah bagaimana caranya aku berterima kasih kepadamu. Untuk waktu dan perjuangan yang kamu berikan. Juga untuk kesetiaan dan cinta yang begitu amat besar. Terimakasih Dinar Alam. Tinggal-lah semua kenangan kita selama ini. Maaf jika aku terlalu banyak membuatmu kecewa dan melakukan banyak kesalahan kepadamu. Aku titipkan segala hal yang aku sayangi dan impian masa depan kita bersamamu. Percayalah, aku menunggumu disini seperti pertama kali kita berkenalan dan aku menunggumu untuk menyatakan cinta kepadaku. Sampai bertemu lagi, Runaways.
THE END.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar